Pengaruh Sosial Media Terhadap Remaja: Cyberstalking

Pengaruh Sosial Media Terhadap Remaja: Cyberstalking

Berikut ini merupakan rangkuman dari paper yang berhubungan dengan pengaruh sosial media dalam ‘Cyberstalking’.

Cyberstalking

IST 432 Group 2 : Pedro Arocho, David Bittle, Ian Bucher, Robert Nelson, Matthew Robuck

Cyberstalking adalah pola perilaku seseorang yang dari waktu ke waktu berusaha untuk mendapatkan akses atau kontrol ke korban melalui jaringan komunikasi online. Seiring dengan perkembangan teknologi di dalam kehidupan sehari-hari ‘arena’ untuk pelaku cyberstalking juga semakin luas. Pelaku cyberstalking juga telah menciptakan tantangan baru untuk deteksi,pencegahan dan penuntutan kepada perilaku cyberstalking tetapi penegakannya sering tidak memadai. Dengan demikian, para pengguna teknologi seharusnya dididik untuk dapat mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari pelaku cyberstalking. (Mullen, 2000).

Cyberstalking adalah istilah yang cukup baru. Menurut ‘The National Center for Victims of Crime’, cyberstalking didefinisikan sebagai seseorang yang membuat ancaman dan hal-hal yang tidak diinginkan terhadap orang lain melalui online dan komunikasi komputer lainnya.

Popularitas dari situs jejaring sosial juga telah menyebabkan peningkatan cyberstalking karena semakin banyak orang yang memposting informasi pribadi di situs ini. Hal ini membuat pelaku cyberstalking akan sangat mudah untuk mendapatkan informasi dan menggunakannya dalam cara-cara negatif terhadap individualnya.

Juveniles and Cyber Stalking in the United States: An Analysis of Theoretical Predictors of Patterns of Online Perpetration

Catherine D. Marcum 

Appalachian State University, United States of America

George E. Higgins

University of Louisville, United States of America

Melissa L. Ricketts

Shippensburg University, United States of America

Istilah cyberstalking mengacu pada ‘stalking’ dalam format elektronik. Dengan anonimitas, kemudahan, dan efisiensi internet, cyberstalking dapat terjadi dalam banyak cara. Cyberstalkers dapat menggunakan informasi pribadi tentang korban untuk mengancam atau mengintimidasi korban. Cyberstalkers juga dapat mengirim sesuatu yang tidak diinginkan, email berulang-ulang atau pesan instan yang mengancam. Penguntit Cyber juga dapat meniru korban mereka secara online dengan mencuri informasi untuk login akun email atau halaman jaringan sosial dan memposting pesan pada halaman mereka (Sheridan & Grant, 2007).

Efek dari Cyberstalking dapat merugikan banyak individu. Korban dapat mengalami beberapa reaksi karena cyberstalking, seperti ketidakberdayaan, malu, perasaan terisolasi, dan kecemasan / depresi. (Ashcroft, 2001; Blauuw, Winkel, Arensman, Sheridan, &Freeve, 2002).

Referensi :

http://faculty.ist.psu.edu/bagby/432Fall07/T2/

http://www.cybercrimejournal.com/marcumetalijcc2014vol8issue1.pdf

http://www.gunadarma.ac.id/

http://staffsite.gunadarma.ac.id/

http://studentsite.gunadarma.ac.id/

http://baak.gunadarma.ac.id/

http://library.gunadarma.ac.id/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s